• Kembali ke Website Pertuni - www.pertuni.or.id
  • Testimony
  • Berita Tunanetra
  • Blog
  • World Blind Union Publications


  • Kamis, 07 Oktober 2010

    Sepenggal Kisah Seorang Ibu Tunanetra

    From: thia_sly@yahoo.com
    To: mitra-jaringan@yahoogroups.com
    Sent: Thursday, October 07, 2010 10:55 AM

    aku sedikit kepingin berbagi ni....bukan maksudnya menggurui atau merasa lebih tahu, cuma sekedar berbagi pengalaman.
    Aku dan suamiku sudah 9 tahun menikah, dan dikaruniai srorang putri yang diberi nama Jennyfer Glorya Elsyara. Tentu saja marganya Rotinsulu, mengikuti marga papanya. Suamiku juga tunanetra tapi dia masih mempunyai sisa penglihatan {low vision} biasa kami para tunanetra menyebutnya. Ketika mama tahu aku hamil setelah beberapa bulan pernikahan kami, mama pernah mengatakan bahwa nanti selahirnya anaku biar mama saja yang mengurusnya. Bliau tidak tega kalau kami harus mengurus anak kami sendiri. Aku tahu....itu karena rasa khawatir mama yang begitu besar mengingat kondisi kami. Tapi aku bersikeras menolak permintaan mama. "kan mama sibuk, nanti siapa yang urus?" tanyaku. "nanti mama cariin baby sitter." jawabnya. "ngapain kalau cuma baby sitter yang urus???? Lagian ma, nanti kalau dia besar dan diasuh bukan sama mama papanya bagaimana dia tahu dan bisa menyesuaikan diri dengan kondisi mama papanya? Bagaimana dia punya ikatan batin sama mama mama papanya? Apa mama mau nantinya cuma lebih sayang oma opanya dan malu punya orangtua tunanetra? Kenapa yang lain bisa merawat anak mereka sendiri? Tuhan adil ma..., Tuhan pasti gak pernah tingalin Tia untuk menjaga anak ini. Tia mau dia kenal orangtuanya. Kenal dan paham." rentetan jawabanku itu membuat mama terdiam. Aku tahu, ia memahami maksudku. singkatnya, ia mengajak salah seorang krabat dari papa untuk tinggal bersama kami sekaligus membantu merawat anakku.
    anakku tumbuh menjadi anak yang manis. Dia disenangi siapa saja. Sejak dalam kandungan, aku selalu bercerita padanya tentang banyak hal walaupun akku tahu dia tak bisa menjawab atau mengomentari ceritaku, tapi pasti yang kuceritakan itu sudah tertanam dalam dirinya. Begitu pula saat dia lahir, selalu kuajak berkomunikasi. Aku tak setuju pendapat orang "anak bayi kok diajak ngomong???mana dia ngerti?" buatku komunikasi harus dibangun sedini munkin.
    Benar saja... Anakku termasuk yang cepat pandai bicara. ketika dia mulai berusia kurang lebih 2 tahun, aku menangkap isyarat bahwa dia mulai tahu keadaan orangtuanya.
    Suatu hari, aku dan papanya membawanya ke pesta ulangtahun. Di perjalanan papanya bilang: "jenny, nanti di acara jenny jangan lari2 ya? Nanti papa bingung ngejar2 jenny diantara anak2. Terus nanti mama sendiri dong kalo papa nyari2 jenny." benar saja...selama acara ulangtahun itu dia hanya duduk bersama kami.
    Tapi suatu ketika, saat dia ke pesta ultah bersama saudaraku, dia berlarian kesana kemari.rupanya dia mulai mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
    Aku juga mengenalkan dia pada temant tunanetraku dan anak2 mereka. Jenny tidak pernah merasa takut atau aneh melihat bentuk mata teman2ku yang berbeda dengan mata orang awas. Bila teman2ku kerumah, dia tak segan menuntun mereka, mengantar ke kamar mandi atau bahkan menyajikan makanan atau minuman langsung ke tangan mereka. Dan mendengar ceritaku, mama papaku sadar, ternyata jika kami yang mengasuhnya jenny sudah paham betul siapa orangtuanya. Belum tentu bisa begitu jika mereka yang membesarkannya.
    oh ia....ada pristiwa yang sampai sekarang masih membuatku heran. Tahun 2004, waktu itu usia jennyfer kira2 1 setengah tahun. Saat itu aku sedang menjaganya dirumahsakit. Dan tanpa sengaja, mata kananku terbentur sudut rak tv dan langsung pecah. Ketika itu jenny ditempat tidur dan berteriak memanggilku. Aku segera dibawa ke ugd yg ada d lantai bawah.aku dalam kondisi setengah sadar dengan darah dan air mengucur deras dari bola mataku yang pecah. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat bola mata kananku itu. Aku dirawat di kamar dan lantai yang berbeda dengan tenpat jenny dirawat. Kondisiku begitu lemah. Keesokan harinya sebelum aku dioprasi, suamiku membawa jenny kekamarku dan ikut mendoakan persiapan oprasiku. Kemudian dia dibawa ke lantai bawah untuk diterapi karena penyakit asmanya. Saat dia naik ke lantai 2, tak ada yang memberitahu padanya dimana mamanya. Tapi heran...., ketika di melewati kamar oprasi dia menangis....mdan terus menunjuk2 ke kamar itu. "mama! Mama! Jenny mau k mama! Mama disitu! Jenny mau mama!"semua yang menunggu didepan kamar aku dioprasi saling bertanya"siapa yang kasih tahu dia tia disitu? Siapa yang bilang ke jenny disitulah tempat mamanya sedang dioprasi?" tapi tak satupun yang mendapat jawabanya. Mereka hanya menyimpulkan itulah hubungan batin seorang ibu dan anaknya yang tahu mamanya dalam kondisi sulit....
    Masih banyak yang ingin kuceritakan. Tapi lain kali aja ya?
    Yg jelas buatku, ada beberapa hal bisa jadi pelajaran buat qta:
    1.tanamkanlah banyak hal kepada anak kita sedini mungkin. Karena saat2 dia baru dilahirkan, dia ibarat kertas putih.Dan jika pengertian serta pengajaran diberikan ketika dia sudah lebih besar mungkin akan lebih sulit.
    2. Bangun seerat mungkin hubungan kita sebagai orangtua tunanetra dengan anak kita.
    3. Perkenalkan anak kita kepada rekan2 tunanetra agar dia bisa lebih mengerti kehidupan mereka yang senasib dengan kita.
    Sekali lagi aku tak bermaksud mengajari lho....

    Regard
    synthia montolalu
    facebook.com/thia.montolalu
    http://www.synthiasly.multiply.com
    Sms: 081244444889

    3 Komentar:

    Blogger INESTASIA mengatakan...

    Amazing...
    Kisah Mba Thia seperti sinetron.
    Salut..

    3 Mei 2011 20.43  
    Blogger Riqo ZHI mengatakan...

    Luar biasa, jadi pengen cepet punya anak hehehe! Blogger Buta

    10 Juni 2011 07.40  
    Blogger Hon BookStore mengatakan...

    Terima kasih buat ceritanya.., karena bisa menjadi motivasi diriku untuk move on.
    Salam kenal namaku Pradana.., aku seorang yang memiliki mata tunanetra sebelah.
    Seorang tunanetra masih tetap dianggap miring oleh orang2, meskipun tidak seluruhnya tunanetra. Terutama di saat kami harus mencari penghidupan dengan bekerja. Saat aku melamar bekerja pun, mereka tidak melihat potensi, tetapi mereka melihat fisik. Tetapi dengan hal2 itu yang terus berulang, aku mampu mencari alternatif lain, seperti menulis buku dan mencoba membuka toko online.

    Silahkan kunjungi dan dapatkan buku yang saya tulis yang berjudul "Praktis dan Mandiri Belajar Bahasa Jepang (Dilengkapi Cara Menulis Huruf Hiragana, Katakana & Kanji dengan Ms.Word)"

    Atau silahkan pilih2 buku berkualitas lainnya di : www.honbookstore.com
    Dapatkan diskon gede2an hingga 15%. :D

    Jangan lupa silahkan tinggalkan jejak alias komen di : Hon Book Store :)

    29 Juni 2014 09.18  

    Posting Komentar

    Berlangganan Posting Komentar [Atom]

    << Beranda